Selamat Datang

di Website Resmi Pemkab Kepahiang

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

Wilayah Rawan Bencana

Email Cetak PDF

Secara geomorfologi Kabupaten Kepahiang mempunyai tiga karakter utama, yaitu dataran-dataran alluvial dan zona vulkanik yang merupakan bagian dari Pegunungan Bukit Barisan dengan karakter pegunungan yang dikenal dengan Patahan Semangko. Dengan kondisi ini, maka Kabupaten Kepahiang termasuk wilayah yang rawan bencana.

NO

JENIS BENCANA

LOKASI

KETERANGAN

1

Banjir

(Rawan Banjir)

Kecamatan Muara Kemumu

Desa Cinto Mandi

 

 

Kecamatan Bermani Ilir

Desa Muara Langkap

 

 

 

Desa Kembang Seri

2

Tanah longsor

Berdasarkan tofografi Kabupaten Kepahiang yang mempunyai kemiringan diatas 45 derajat, menyebabkan hampir seluruh wilayah kabupaten Kepahiang berpotensi terjadi bencana tanah longsor

 

3

Gunung Berapi

Dilihat dari potensi bencana gunung berapi Bukit Kaba 5 (lima) Kecamatan di Kabupaten Kepahiang berpotensi  terlanda Lahar, Hujan Abu, awan Panas

a.  Kecamatan Ujan Mas berpotensi terlanda lahar hujan, perluasan awan panas, hujan abu dan dapat tertimpa material batu berdimensi kecil

b.  Kecamatan Kabawetan berpotensi terlanda lahar hujan, perluasan awan panas, hujan abu dan dapat tertimpa material batu berdimensi kecil

  1. Kecamatan Tebat Karai berpotensi terlanda lahar hujan, perluasan awan panas, hujan abu dan dapat tertimpa material batu berdimensi kecil

d.  Kecamatan Kepahiang berpotensi terlanda lahar hujan

e.  Kecamatan Seberang musi berpotensi terlanda lahar hujan

4

Gempa bumi

Hampir diseluruh wilayah Kabupaten Kepahiang berpotensi terhadap bencana gempa bumi, berdasarkan fakta historis, kecamatan Tebat Karai dan Kecamatan Ujan Mas perlu mendapat perhatian lebih terhadap potensi bencana alam gempa bumi.

 

Dalam rangka mengantisipasi dan mengurangi resiko atas bencana yang akan terjadi, dan dalam upaya menjalankan mandat UU No. 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana (PB), Pemerintah Kabupaten Kepahiang telah memiliki sejumlah kebijakan dan regulasi terkait Penanggulangan Bencana dengan telah dibentuknya Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kepahiang.

 

Pengembangan Struktur Tata Ruang

Email Cetak PDF

Rencana struktur tata ruang dan pola tata ruang wilayah Kabupaten Kepahiang diwujudkan melalui kegiatan pemanfaatan ruang yang meliputi program, kegiatan dan tahapan pelaksanaan. Kegiatan pemanfaatan ruang ini mencakup pengembangan struktur tata ruang, pengembangan pola tata ruang, peningkatan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup. Program pembangunan struktur tata ruang meliputi; program pengembangan sistem kota-kota, infrastruktur wilayah, program pengembangan kawasan tertentu, serta pertahanan dan keamanan.

Program Pengembangan Sistem Kota-kota

Untuk mewujudkan keserasian perkembangan kegiatan pembangunan antar wilayah, setiap PKW dan PKL perlu didukung oleh ketersediaan serta kualitas sarana dan prasarana yang sesuai dengan skala pelayanannya. Untuk itu program pengembangan sistem kota-kota adalah;

  1. Penataan PKL-1 Kepahiang
  2. Pengembangan PKL 2, yaitu terdiri dari Kecamatan Ujan Mas, Tebat Karai dan Bermani Ilir
  3. Pengembangan PKL 3, yaitu terdiri dari Kecamatan Merigi, Kabawetan, Seberang Musi dan Muara Kemumu

Program-program tersebut dijabarkan dalam kegiatan-kegitan berikut :

Penataan Pusat Kegiatan Lokal 1 (PKL-1) Kepahiang

  • Program Pengembangan Kegiatan Permukiman Perkotaan, meliputi ;
    • Penyusunan Rencana Tata Ruang Kawasan Perkotaan di Kepahiang dan Pusat Pemerintahan Kabupaten
    • Program Pengembangan Fasilitas Pembentukan Ruang, meliputi;
      • Pembangunan Terminal Regional
      • Peningkatan Fasilitas Pendidikan dengan fasilitas Perguruan Tinggi
      • Peningkatan pelayanan jaringan telekomunikasi
      • Peningkatan pelayanan jaringan air bersih
      • Peningkatan pelayanan jaringan energi listrik
      • Pengembangan sentra industri
      • Peningkatan Pasar yang telah ada di Kecamatan Kepahiang

 

 

Program Pengembangan Pola Tata Ruang

Email Cetak PDF

Program pengembangan pola tata ruang meliputi program pengembangan kawasan lindung dan kawasan budidaya.

A. Perwujudan Pemanfaatan Ruang Kawasan Lindung

Perwujudan pemanfaatan ruang kawasan lindung merupakan upaya mewujudkan pemanfataan ruang di kawasan lindung sebagaimana yang telah direncanakan, dimana langkah kegiatannya dapat berupa mempertahankan yang sudah ada, alih fungsi lahan sesuai peruntukannya ataupun memberikan fungsi lindung pada kawasan budidaya (misalnya hutan produksi atau perkebunan yang diberi fungsi lindung).

Tabel Perwujudan Kawasan Lindung

NO

KAWASAN LINDUNG

KEGIATAN PERWUJUDAN PEMANFAATAN RUANG

1

Kawasan Hutan Lindung

a)   Kawasan lindung yang saat ini berupa hutan lindung, dipertahankan keberadaannya dan dijaga kelestariannya.

b)   Mengalihfungsikan lahan-lahan yang eksistingnya belukar/ilalang/padang rumput yang sesuai untuk hutan lindung dijadikan hutan lindung.

c)   Memberikan fungsi lindung pada semua hutan produksi yang sudah ada.

d)  Memberikan fungsi lindung pada perkebunan swasta besar.

e)   Rehabilitasi hutan lindung pada kawasan hutan lindung yang telah mengalami kerusakan dan penggundulan hutan secara liar.

f)    Pembentukkan lembaga/tim khusus yang melibatkan seluruh komponen masyarakat, swasta dan pemerintah di semua tingkatan pemerintahan.

g)  Pemanfaatan hasil hutan non kayu.

h)  Pembangunan bangunan konservasi tanah.

i)    Pembuatan kebun bibit permanen dan kebun bibit desa untuk pengembangan hutan.

j)    Pembinaan petani lebah madu.

k)   Pelaksanaan gerakan rehabilitasi hutan dan lahan secara sistematis dan periodik, yang dapat dilakukan melalui Penyusunan Rencana Teknik Tahunan selama 5 tahun.

l)    Memonitor dan membina semua kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan secara terpadu dan berkesinambungan

2

Kawasan Taman Nasional (Taman Nasional Kerinci Sebelat/TNKS)

a)   Pembangunan jalan-jalan inpeksi dan sarana prasarana pendukung lainnya di Kawasan TNKS.

b)   Pembangunan pos-pos keamanan di sekitar kawasan Kawasan Taman Nasional TNKS yang berfungsi menjaga keamanan kawasan cagar alam.

c)   Kawasan TNKS dipertahankan keberadaannya dan dijaga kelestariannya.

3

Kawasan Konservasi dan Sumberdaya Air

  1. Kegiatan pada kawasan konservasi dan resapan air harus dapat mendukung terjaganya siklus hidrologi, seperti pengembangan tanaman perkebunan yang berfungsi sebagai tanaman konservasi.
  2. Penguasaan lahan sebagian besar oleh pemerintah pada kawasan peruntukan konservasi dan resapan air dapat dilakukan dengan cara pemerintah membeli lahan (sebagian besar) pada kawasan konservasi tersebut dengan memanfaatkan sesuai dengan fungsinya.
  3. Pengawasan dan pengendalian pada kawasan konservasi dan resapan air dilakukan dengan cara pemerintah daerah memberikan wewenang dan tanggungjawab terhadap pengawasan dan pengendalian kawasan konservasi dan resapan air pada pemerintahan kecamatan dan desa, pada wilayah terkait kawasan konservasi dan resapan air.

4

Kawasan Perlindungan Setempat

 

 

A.     Sempadan Sungai

 

 

a)   Kawasan sempadan sungai, dipertegas batas-batasnya, segera dikuasai pemerintah dan diperkuat statusnya.

b)   Perwujudan lahan-lahan sempadan sungai dapat dilakukan dengan cara partisipatif masyarakat, atau penertiban terutama di kawasan lindung yang membahayakan kelangsungan penduduk yang tinggal di kawasan sekitarnya.

c)   Sempadan sungai setelah dikuasai pemerintah, maka untuk mempermudah pengawasan dan pengendaliannya dilakukan pembangunan jalan inspeksi.

d)  Untuk wilayah sekitar sempadan sungai bangunan boleh didirikan setelah adanya pembangunan jalan inspeksi.

e)   Rehabilitasi dan pengerukan lumpur sungai pada aliran sungai yang telah mengalami pendangkalan.

f)    Bangunan yang didirikan di sekitar wilayah sempadan sungai harus menghadap sungai.

 

 

g)  Di wilayah yang lahannya sudah memiliki nilai ekonomis tinggi, untuk mewujudkan sempadan sungai di tanah yang dikuasai oleh masyarakat dapat dilakukan dengan cara penggantian sesuai dengan kesepakatan.

 

 

B.     Kawasan Sekitar Mata Air

 

a)   Kawasan sekitar mata air beserta mata airnya yang bersifat publik dan menguasai hajat hidup orang banyak, dipertegas batas-batasnya, segera dikuasai pemerintah dan diperkuat statusnya.

b)   Perwujudan lahan-lahan kawasan sekitar mata air dilakukan dengan cara partisipatif masyarakat atau penertiban terutama di sekitar mata air yang membahayakan kelangsungan penduduk yang tinggal di kawasan sekitarnya.

 

C.    Kawasan Sekitar Stu/Danau/Waduk

 

a)   Kawasan sempadan danau, dipertegas batas-batasnya, segera dikuasai pemerintah dan diperkuat statusnya.

b)   Perwujudan lahan-lahan sempadan danau dapat dilakukan dengan cara partisipatif masyarakat, atau penertiban terutama di kawasan lindung yang membahayakan kelangsungan penduduk yang tinggal di kawasan sekitarnya.

c)   Sempadan danau/waduk setelah dikuasai pemerintah, maka untuk mempermudah pengawasan dan pengendaliannya dilakukan pembangunan jalan inspeksi.

d)  Kawasan sekitar danau/waduk, bangunan boleh didirikan setelah adanya pembangunan jalan inspeksi.

e)   Bangunan yang didirikan di sekitar wilayah sempadan danau/waduk harus menghadap ke danau/waduk.

 

f)   Di Kawasan Sempadan Danau/Waduk dimanfaatkan untuk kegiatan pariwisata/rekreatif tetapi tetap dijaga kegiatan terbangunnya tetap tidak dominan.

 

5

Kawasan Rawan Bencana Alam

  1. Perkembangan penduduk perlu diawasi dan dikendalikan dan atau menghutankan Kawasan Rawan Bencana Alam dengan cara reboisasi.
  2. Pencegahan terhadap longsor dapat memanfaatkan unsur alam, seperti penanaman pohon pada wilayah potensial longsor.
  3. Pengembangan organisasi masyarakat, yang siap dan siaga terhadap kemungkinan tejadinya bencana alam.
  4. Pembuatan CEK DAMS penahan erosi di lereng gunung dan celah antar bukit dan atau pembuatan DAM penahan dan kantong-kantong pasir yang mengatur erosi di daerah pegunungan.

 

e.   Evakuasi penduduk yang berada di wilayah sekitar TNKS pada lokasi yang layak huni

f.    Pengawasan dan Pengendalain pada kawasan TNKS

 

B.  Perwujudan Pemanfaatan Ruang Kawasan Budidaya

Perwujudan pemanfaatan ruang kawasan budidaya adalah Proses pengaturan dan atau pengelolaan Kawasan Budidaya berdasarkan tujuan dan kriteria tertentu untuk mencapai hasil yang diinginkan, yaitu yang telah dirumuskan diawal. Sedangkan komponen Kawasan Budidaya yang tertuang dalam RUTRW ini adalah meliputi; Kawasan Hutan, Kawasan Pertanian (Lahan Basah, Lahan Kering dan Perkebunan) dan Kawasan Permukiman Perkotaan dan Perdesaan.

Tabel  Perwujudan Kawasan Budidaya

NO

KAWASAN BUDIDAYA

PERWUJUDAN

1

Kawasan Hutan Produksi (Hutan Rakyat dan Hutan Negara)

 

  1. Pengembangan industri pengolahan dengan bahan baku kayu (kertas, kerajinan tangan, dll) dan membudidayakan tanaman industri bernilai ekonomis.
  2. Untuk menciptakan kondisi tersebut perlu adanya akses (kemudahan) dalam memperoleh ijin pengelolaan hutan produksi pada swasta dan masyarakat setempat.
  3. Melakukan pengawasan dan pengendalian kawasan hutan produksi dengan cara pemerintah daerah memberikan wewenang dan tanggungjawab terhadap pemerintahan kecamatan dan desa yang terkait dengan kegiatan yang dapat mengganggu dan merusak kawasan hutan produksi.
  4. Pemerintah memberikan instruksi yang mengikat pada program tebang-pilih pada kawasan hutan produksi.
  5. Pemerintah memberikan instruksi/arahan yang mengikat pada program tebang-tanam pada kawasan hutan produksi dalam rangka memberikan fungsi lindung pada semua hutan produksi yang ada di Wilayah Kabupaten Kepahiang.

2

Kawasan Pertanian Lahan Basah

 

a)     Pengembangan infrastruktur yang mendukung seperti jaringan jalan, irigasi, dan agroindustri dengan fungsi yang didasarkan pada potensi pertanian wilayah pinggiran (lahan basah).

b)     Pengembangan perusahaan pengumpul dan distribusi (dapat berbentuk koperasi, pasar khusus, dan lain-lain) bagi pertanian lahan basah dengan memperhatikan jarak minimum (mudah dijangkau).

c)     Pemberian kredit pinjaman bagi petani lahan basah dalam rangka menunjang kesinambungan usaha pertaniannya.

d)     Menciptakan prasarana irigasi sehingga pengembangan pertanian lahan basah agar tidak tergantung pada musim dengan memperhatikan kemampuan alam dalam pembangunan irigasi.

e)     Memperluas wilayah pemasaran produksi pertanian lahan basah, baik lokal maupun pasar ekspor.

f)      Pengembangan agroindustri dengan fungsi yang didasarkan pada potensi pertanian wilayah pinggiran (lahan basah) dan pengembangan pusat pengumpul dan distribusi bagi pertanian lahan basah dengan memperhatikan jarak minimum (mudah dijangkau).

g)     Menjaga stabilitas harga pupuk, obat-obatan, dan bibit.

h)     Membangun balai penyuluhan dan pelatihan usaha tani.

3

Kawasan Pertanian Lahan Kering

 

a)     Pertanian lahan kering dikembangkan di seluruh kecamatan dengan prioritas utama di wilayah Timur.

b)     Pemberian kredit pinjaman bagi petani lahan kering dalam rangka menunjang kesinambungan usaha pertaniannya.

c)     Membudidayakan komoditi tanaman lahan kering yang prospektif dan ekonomis, intensifikasi pemanafaatan lahan, penanganan panen dan pasca panen dan menggalakkan program penggunaan bibit unggul.

d)     Pengembangan agroindustri dengan fungsi yang didasarkan pada potensi pertanian wilayah pinggiran (lahan kering) dan pengembangan pusat pengumpul dan distribusi bagi pertanian lahan basah dengan memperhatikan jarak minimum (mudah dijangkau).

e)     Memperluas wilayah pemasaran produksi pertanian lahan kering, baik lokal maupun pasar ekspor.

f)      Pemberian kredit pinjaman bagi petani lahan kering dalam rangka menunjang kesinambungan usaha pertaniannya.

g)     Menjaga stabilitas harga pupuk, obat-obatan, dan bibit.

h)     Membangun balai penyuluhan dan pelatihan usaha tani.

4

Kawasan Perkebunan/Tanaman Tahunan

a)     Kawasan perkebunan / tanaman tahunan dikembangkan di seluruh kecamatan, dengan prioritas utama di bagainUtara,  Timur dan Selatan

b)     Memperluas wilayah pemasaran produksi perkebunan/tanaman tahunan, baik lokal maupun pasar ekspor.

c)     Menggalakkan program penggunaan bibit unggul, serta menciptakan prasaran irigasi (pengembangan tidak tergantung pada musim) yang mendukung perkembangan perkebunan/tanaman tahunan.

d)     Pemberian kredit pinjaman bagi petani tanaman tahunan/perkebunan dalam rangka menunjang kesinambungan usaha tanaman tahunan/perkebunan.

e)     Pengembangan  agroindustri dengan fungsi yang didasarkan pada potensi (basis komoditas) tanaman tahunan/perkebunan dan pengembangan pusat pengumpul dan distribusi bagi pertanian tanaman tahunan/perkebunan dengan memperhatikan jarak minimum (mudah dijangkau).

f)      Menjaga stabilitas harga pupuk, obat-obatan, dan bibit tanaman tahunan/perkebunan.

5

Kawasan Peternakan

 

a)     Peternakan dikembangkan di seluruh kecamatan dengan prioritas utama di wilayah Timur dan Selatan Pemberian kredit pinjaman bagi usaha peternakan dalam rangka menunjang kesinambungan usaha peternakan.

b)     Menggalakan program penggunaan bibit unggul.

c)     Memperluas wilayah pemasaran produksi peternakan, baik lokal maupun pasar ekspor.

d)     Pengembangan pusat pengumpul dan distribusi bagi usaha peternakan dengan memperhatikan jarak minimum (mudah dijangkau).

e)     Membangun balai penyuluhan dan pelatihan.

6

Kawasan Perikanan

 

a)     Perikanan dikembangkan di seluruh kecamatan dengan prioritas utama di wilayah Barat dan Selatan

b)     Pemberian kredit pinjaman bagi usaha perikanan dalam rangka menunjang kesinambungan usaha peternakan.

c)     Menggalakan program penggunaan bibit unggul.

d)     Memperluas wilayah pemasaran produksi perikanan, baik lokal maupun pasar ekspor.

e)     Pengembangan pusat pengumpul dan distribusi bagi usaha perikanan dengan memperhatikan jarak minimum (mudah dijangkau).

f)      Membangun balai penyuluhan dan pelatihan.

7

Kawasan Pertambangan dan Galian

 

a)     Meningkatkan kemampuan penambangan di kawasan pertambangan dan galian.

b)     Memperluas wilayah pemasaran produksi pertambangan dan galian, baik lokal maupun pasar ekspor.

c)     Pemberian ijin pengelolaan dan seleksi usaha pertambangan dan galian (kelayakan perusahaan) bagi setiap pengelolaan pertambangan dan galian harus memperhatikan dukungan alam dan lingkungan sekitarnya, sehingga diperlukan audit sumberdaya penting dan prioritas.

d)     Teknik pengelolaan dan pengambilan sumberdaya harus ramah lingkungan.

e)     Uji kelayakan bagi setiap pengelola (perusahaan maupun masyarakat) usaha pertambangan dan galian.

f)      Pemberian kredit pinjaman bagi usaha pertambangan dan galian dalam rangka menunjang kesinambungan usahanya.

g)     Pengembangan industri pengolahan dengan fungsi yang didasarkan pada potensi pertambangan dan galian.

h)     Pengembangan infrastruktur penunjang, seperti jalan, air, dan bangunan penunjang lainnya.

i)      Kegiatan penggalian dan pertambangan tidak menggunakan alat dan bahan yang berbahaya bagi keselamatan lingkungan dan pekerja.

8

Peruntukan Industri

 

a)     Pembangunan Industri berbasis pertanian

b)     Industri yang dikembangkan adalah industri yang memiliki dampak ikutan tinggi dan berpolusi rendah sehingga tidak mengganggu lingkungan.

c)     Prioritas pengembangan industri pengolahan (dan atau agroindustri) pada komoditas bukan konsumsi langsung (perlu pengolahan terlebih dahulu untuk dikonsumsi) sehingga dapat membangkitkan tenaga kerja dalam jumlah yang relatif besar.

d)     Pemanfaatan teknologi industri tepat guna, yaitu pemanfataan teknologi yang memperhatikan kemampuan produksi, tenaga kerja dan modal.

e)     Industri menengah dapat dikembangkan di bagian tengah dan timur.

f)      Di seluruh kecamatan dikembangkan sentra industri yang mendukung terhadap kesinambungan kegiatan pertanian seperti perkebunan, pertanian lahan basah dan kering, peternakan dan perikanan, dan perhutanan.

g)     Penataan struktur industri dan rencana ruang/relokasi pengusaha industri kecil dan menengah yang meliputi kegiatan Kajian Penataan Ruang Peruntukan Industri seperti pembuatan peta lokasi potensi industri kecil, perencanaan relokasi potensi industri kecil, pembinaan dan pengembangan industri kecil menengah serta promosi investasi bagi pengembangan industri agro dan penanggulangan pencemaran industri.

h)     Pengembangan infrastruktur penunjang, seperti jalan, air, dan bangunan penunjang lainnya.

 

9

Kawasan Permukiman Perkotaan dan Perdesaan

a)     Pengembangan kegiatan permukiman dengan kepadatan kegiatan permukiman tinggi adalah pada kawasan perkotaan/perdesaan yang meliputi Kecamatan Kepahiang dan Ujan Mas  dengan rata-rata jumlah bangunan pada kawasan terbangunnya adalah > 25 unit/Ha.

b)     Pengembangan kegiatan permukiman dengan kepadatan kegiatan permukiman sedang adalah kawasan perkotaan/perdesaan yang meliputi Kecamatan Tebat Karai dan Bermani Ilir dengan rata-rata jumlah bangunan pada kawasan terbangunnnya adalah 15-25 unit/Ha.

c)     Pengembangan kegiatan permukiman dengan kepadatan kegiatan permukiman rendah adalah pada kawasan perdesaan yang meliputi Kecamatan Merigi, Kabawetan, Seberang Musi dan Muara Kemumu dengan rata-rata jumlah bangunan pada kawasan terbangunnya adalah < 15 unit/Ha.

d)     Pembangunan Kasiba dan Lisiba (kawasan siap bangun dan lahan siap bangun) untuk menunjang kegiatan perkotaan di kecamatan Kabawetan dan Tebat Karai dengan mempersiapkan lahan siap bangun dan pembuatan prasarana permukiman pendukungnya seperti jalan lingkungan, prasarana air bersih dan atau /limbah, jaringan telekomunikasi serta sarana dan prasarana pendukung lainnya

10

Perdagangan dan Jasa

a)     Kegiatan Perdagangan dan jasa dikembangkan pada kawasan pengembangan perkotaan, dengan prioritas pada kawasan perkotaan Kepahiang

b)     Kegiatan Perdagangan dan jasa yang dikembangkan adalah kegiatan yang memiliki kemampuan mendukung kegiatan industri dan pertanian yang berkembang di Kabupaten Kepahiang

11

Kawasan Pariwisata

 

a)     Pengembangan pemasaran dan promosi kawasan wisata di Kabupaten Kepahiang dalam rangka memperluas pangsa pasar wisata.

b)     Membangkitan usaha wisata, sebagai industri pariwisata (mempermudah upaya investor untuk investasi pada sektor pariwisata).

c)     Pengembangan pemasaran dan promosi kawasan wisata di Kabupaten Kepahiang dalam rangka memperluas pangsa pasar wisata melalui kegiatan- pameran, pengadaan sarana promosi, event kepariwisataan (pentas seni, lomba-lomba wisata) untuk menarik wisatawan berkunjung ke Kabupaten Kepahiang.

d)     Pengembangan infrastuktur yang mendukung terhadap pengembangan pariwisata di Kabupaten Kepahiang.

e)     Menciptakan kemudahan jangkauan terhadap obyek wisata.

f)      Pengembangan obyek wisata melalui kegiatan penataan-penataan kawasan obyek wisata di Kabupaten Kepahiang.

 

Potensi Kabupaten Kepahiang

Email Cetak PDF
Energi Panas Bumi (Geothermal)

Selain mengandung Galian A, B dan C, di dalam perut bumi Kabupaten Kepahiang juga tersimpan energi panas bumi (geothermal) dalam jumlah yang besar. Hasil Riset Panas Bumi (Geothermal)  yang dilaksanakan oleh Pusat Teknologi Sumber Daya Mineral BPPT bekerjasama dengan Dinas Energi dan Sumberdaya Mineral Kabupaten Kepahiang menunjukkan bahwa:

  • Potensi panas bumi di Kabupaten Kepahiang terletak di Desa Air Sempiang dengan ketinggian 1.290 m DPL mempunyai suhu 40 - 80°C. Terdapat 9 titik dengan membentuk lintasan tenggara-barat laut sepanjang ± 7 KM.
  • Berdasarkan hasil survey gravity dan magnetotelluric ditafsirkan luas daerah potensi panas bumi ± 3 km x 5 km = 15 km².
  • Berdasarkan hasil survey tersebut dan dengan formula penghitungan potensi energi panas bumi  dapat diestimasikan bahwa potensi panas bumi Kabupaten Kepahiang  adalah sebesar 69,51 Mwe.

Potensi panas bumi yang dimiliki oleh Kabupaten Kepahiang merupakan salah satu sumberdaya energi yang potensial di masa yang akan datang.

Potensi Wisata Alam

Kabupaten Kepahiang sebenarnya memiliki sumberdaya alam yang berpotensi sebagai objek wisata alam. Beberapa potensi tersebut diantaranya adalah: paket wisata alam yang sudah ada yaitu perkebunan teh Kabawetan dan Bendungan Suro Ilir, paket wisata alam dan kesehatan meliputi Cagar alam bunga Raflesia, paket wisata Agro Tirto dan Budaya seperti Danau Glagah Muara Lengkap serta paket wisata petualangan alam seperti Air terjun Bukit Hitam. Data selengkapnya ditampilkan pada Tabel 2.7. Namun pariwisata alam yang dicanangkan selama ini masih belum dikelola dengan optimal. Potensi wisata alam di Kabupaten Kepahiang sangatlah ideal karena letak geografis Kabupaten Kepahiang. Namun penyediaan sarana dan prasarana kepariwisataan serta tenaga kerja di bidang pariwisata juga masih belum dikembangkan, sehingga potensi wisata alam tersebut belum tumbuh dan berkembang dengan baik. Berikut Lokasi dan Potensi Objek Wisata di Kabupaten Kepahiang

NO.

LOKASI

NAMA OBJEK WISATA

1.

Kec. Ujan Mas

  1. Ds. Ujan Mas
  2. Ds. Daspetah
  3. Ds. Ujan Mas
  4. Ds. Suro Bali

 

  • Air Terjun Piring
  • Air Terjun Durian
  • PLTA Musi
  • Tempat Upacara Umat Hindu

2.

Kec. Kepahiang

  1. Ds. Tebat Monok
  2. DAS Air Musi
  3. Ds. Pagar Gunung dan Kawasan Hutan Lindung
  • Air Terjun
  • Air Terjun Ketapang
  • Air Terjun Curup Cokoah
  • Kolam Pancing
  • Arung Jeram
  • Bunga Raflesia

3.

Kec. Tebat Karai

  1. Ds. Karang Endah
  • Air Terjun Curup Embun

4.

Kec. Kabawetan

  1. Ds. Tugu Rejo
  2. Ds. Sukasari
  3. Ds. Bandung Baru
  4. Ds. Air Sempiang
  5. Ds. Babakan Bogor
  • Air Terjun
  • Air Terjun
  • Danau Salak “ Payo Salak “
  • Air Terjun Bertingkat
  • Air Terjun

5.

Kec. Bermani Ilir

  1. Ds. Gunung Agung
  • Air Terjun    Curup Gayung

6.

Kec. Muara Kemumu

  1. Ds. Sosokan Taba
  2. Ds. Batu Kalung
  • Air Terjun “ Air  Belimbing “
  • Air Terjun Curup Embun,

7.

Kec. Seberang Musi

  1. Ds. Taba Padang
  2. Ds. Temdak
  3. Ds. Lubuk Saung
  • Air  Panas
  • Air Terjun “Curup Temdak “
  • Air Terjun “ Curup Layak “

 

 

Warning: Illegal string offset 'active' in /home/kepah933/public_html/templates/ja_purity/html/pagination.php on line 129

Warning: Illegal string offset 'active' in /home/kepah933/public_html/templates/ja_purity/html/pagination.php on line 135

Warning: Illegal string offset 'active' in /home/kepah933/public_html/templates/ja_purity/html/pagination.php on line 129

Warning: Illegal string offset 'active' in /home/kepah933/public_html/templates/ja_purity/html/pagination.php on line 135

Warning: Illegal string offset 'active' in /home/kepah933/public_html/templates/ja_purity/html/pagination.php on line 129

Warning: Illegal string offset 'active' in /home/kepah933/public_html/templates/ja_purity/html/pagination.php on line 135

Warning: Illegal string offset 'active' in /home/kepah933/public_html/templates/ja_purity/html/pagination.php on line 129

Warning: Illegal string offset 'active' in /home/kepah933/public_html/templates/ja_purity/html/pagination.php on line 135


halaman 24 dari 24

Informasi Gempa

sumber: bmkg.go.id

Webplayer

You need Flash player 6+ and JavaScript enabled to view this video.

Jajak Pendapat

Bagaimana Kinerja Pemerintahan Kabupaten Kepahiang Saat ini ?
 

Sedang Online

Ada 35 tamu online

Pengunjung Web

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari Ini208
mod_vvisit_counterKemarin301
mod_vvisit_counterMinggu Ini1100
mod_vvisit_counterBulan Ini6850
mod_vvisit_counterTotal Pengunjung766176